Mengenal IPCN Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB

Hello Healthy People dan Civitas Hospitalia! 👋

*****

Rumah Sakit sebagai fasilitas Pelayanan Kesehatan dituntut memberikan pelayanan yang aman dan bermutu sesuai Undang Undang No. 36 tahun 2009 dan Undang Undang No. 44. Upaya yang dilakukan antara lain dengan Penerapan Patient safety yaitu menurunkan resiko HAIs.

Resiko Infeksi yang terjadi di fasilitas kesehatan¸ saat ini dikenal sebagai Health Care Associated Infections (HAIs) merupakan masalah penting di seluruh dunia. Masyarakat/pasien/pengunjung di Rumah Sakit sebagai penerima pelayanan kesehatan serta tenaga kesehatan sebagai pemberi pelayanan dihadapkan pada resiko terjadinya infeksi nosokomial atau infeksi yang didapat di Rumah Sakit. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) bertujuan untuk mengidentifikasi dan meminimalkan resiko penularan/transmisi infeksi diantara pasien, tenaga professional kesehatan, baik dari luar maupun yang didapat di Rumah Sakit. Hal ini berkaitan erat dengan mutu pelayanan di Rumah Sakit yang akan mempengaruhi citra Rumah Sakit.

IPCN atau Perawat Pencegah dan Pengendali Infeksi merupakan tenaga professional dan praktisi dalam pelaksanaan PPI di Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. Berdasarkan SK Menkes tahun 2007 bahwa setiap Rumah Sakit harus melaksanakan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dan memiliki IPCN dengan perbandingan 1 IPCN terhadap 100-150 tempat tidur.

IPCN menjadi garda terdepan dalam pengendalian infeksi di rumah sakit. Mereka sudah dilatih dan disumpah untuk terus mengupayakan dan menekan angka infeksi nosocomial di rumah sakit. Bagi rumah sakit yang sudah terakreditasi hukumnya wajib mempunyai IPCN atau team PPI

Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Nusa Tneggara Barat telah memiliki Komite PPI dengan 4 orang IPCN. Di Era Pandemi COVID 19 ini peranan IPCN sangatlah besar.

Filosopinya adalah Orang berkunjung ke rumah sakit dengan tujuan mendapat kesembuhan bukan menambah penderitaan karena tertularnya infeksi. Baik bagi penderita, pengunjung ataupun petugas.

Menurut Tim PPI, Ini sebenarnya masalah budaya, budaya yang harus dipupuk dan terus dijaga, budaya sehat untuk menghindari penularan dan tertularnya penyakit. Semua sepakat rumah sakit adalah tempatnya orang merawat orang sakit, orang sakit itu bermacam-macam jenisnya. Dalam hal ini dihindari menularkan penyakit dari pasien satu ke lainnya, dari pasien ke petugas, dari pasien ke pengunjung, atau bahkan dari pengunjung ke pasien atau petugas.

Salah satu yang sederhana adalah budaya cuci tangan dengan cairan aseptic yang terbukti ampuh, dimana selalu cuci tangan sebelum memegang atau setelah memegang pasien bagi petugas, baik pengunjung yang mebesuk harus cuci tangan sebelum membesuk dan meninggalkan rumah sakit. Ini baru mencegah penularan yang melalui sentuhan tangan. Untuk penularan yang melalui pernafasan disediakan masker, dan diajarkan cara batuk yang benar agar tidak menularkan pada yang lain. Karena di setiap tempat tidur pasien sudah disediakan cairan antiseptik tersebut

Sementara untuk pengendalian infeksi ke dalam (lingkungan dalam rumah sakit), petugas IPCN atau PPI akan lebih keras lagi. Termasuk memastikan ruangan dan jalur yang digunakan pasien COVID 19 telah dilakukan disinfeksi. Karena dia sudah diberi wewenang oleh Direksi untuk itu, dan dia bertanggung jawab langsung ke Direksi.

Yuk, pada Hari Cuci Tangan Sedunia hari ini, kita ucapkan Selamat dan Penghargaan kepada Tim PPI dan IPCN atas kolaborasinya selama ini khususnya membantu dalam penanganan COVID 19..

Terima Kasih Tim IPCN :

I Gusti Alit Sudiadnya.,S.Kep
Fergy Desi Puspita.,S.Kep.Ns
Rolly Arman.,S.Kep.Ns
Made Kartika Indrayanti.,SKM