Kepala Divisi IGD Berbagi Wawasan Mengenai Pelayanan Kegawatdaruratan Selama Pandemi COVID-19

Hello Healthy People dan Civitas Hospitalia! 👋

Semoga selalu tetap sehat dan menjalani kegiatan pada masa pandemi saat ini dengan bugar dan lancar.

Pada English Day edisi Jumat, 28 November 2020 kali ini, Kepala Divisi IGD (Intra hospital), Ns. HL. Riyanna Doddy, S.Kep; M.Hum, berbagi wawasan mengenai pelayanan kegawatdaruratan selama pandemi Covid-19, khususnya di bagian triase dan screening prehospital.

Pelayanan kegawatdaruratan ini, mengacu pada PMK 47 tahun 2018 tentang pelayanan kegawatdaruratan dan PMK 19 tahun 2016 tentang sistem pelayanan gawat darurat terpadu (SPGDT),

Selama pandemi Covid-19, pelayanan emergency di IGD RSUDP NTB memiliki beberapa modifikasi model pelayanan kegawatdaruratan. Dari sisi area, dibagi menjadi dua area, yaitu: area screening dan area critical care.

Semua pasien yang datang ke IGD dan belum memiliki kejelasan akan status screening prehospital-nya, maka akan diberlakukan screening di area screening, bagaimanapun kondisi pasien tersebut, apakah: gawat darurat mengancam nyawa, darurat tapi tidak gawat, maupun tidak gawat dan tidak darurat.

Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB sudah menyiapkan dan memodifikasi area screening IGD bertekanan negatif (negatif oressure room) sebagai area screening, sehingga tindakan penyelamatan nyawa dalam kondisi true emergency tetap bisa dilaksanakan dengan baik.

Pelayanan pasien di area screening ini untuk memastikan bahwa status pasien adalah jelas sebelum dimasukkan ke area critical care P1, P2, atau pun ke ruang rawat inap. Apabila hasil screening menunjukkan pasien tersebut suspek, akan di tempatkan sementara waktu di Ruang Extended Isolasi IGD, sebagai persiapan evakuasi menuju ruang rawat inap isolasi.

Sistem Triase yang digunakan di IGD adalah Sistem ESI (emergency severity index), yang mana tidak hanya memilah dan memilih pasien dari status kegawatdaruratanya, tetapi juga mempertimbangkan resources atau sumber daya yang ada–baik sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya–seperti: pemeriksaan penunjang laboratorium, radiologi, dan lain-lain. Sehingga dalam memilah dan memilih pasien gawat darurat, bisa lebih efektif dan efisien.