RSU Provinsi NTB dijadikan Sentinel RS untuk SIBI

101_9441 101_9442 101_9443

Sejak tahun 2008 Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan (PBTDK), Balitbangkes sudah melaksanakan surveilans SARI di 10 rumah sakit di 10 provinsi hingga tahun 2012. Berdasarkan hasil kajian terhadap sistem surveilans SARI  yang dilaksanakan oleh US-CDC pada bulan Mei 2012, ada beberapa hal yang direkomendasikan untuk memperkuat sistem ini. Dimana manfaat yang didapat hanya untuk mendukung kelengkapan sirkulasi virus influenza yang beredar di Indonesia namun tidak bisa memberikan informasi proporsi kasus influenza secara epidemiologi. Hal ini memerlukan upaya yang besar untuk meningkatkan pemanfaatannya untuk program pengendalian penyakit ISPA.

Di Subdit ISPA sendiri telah dilaksanakan surveilans sentinel pneumonia dari tahun 2007. Pada Agustus 2012, US-CDC dan World Health Organization (WHO) melakukan evaluasi terhadap Sistem Surveilans Pneumonia. Hasil evaluasi tersebut menemukan bahwa sistem tersebut sangat terbatas pemanfaatannya untuk memberikan informasi pada kebijakan kesehatan masyarakat karena tidak adanya komponen laboratorium yang memberikan informasi tentang etiologi penyakit ini.

Dengan merujuk kepada  Pedoman WHO yang dikeluarkan pada bulan Juli 2012 tentang ‘Epidemiological Surveillance Standards for Influenza’. Dimana secara garis besar pedoman ini berisi definisi kasus terbaru, rekomendasi tentang pelaksanaan surveilan Influenza, serta menawarkan solusi rasional terhadap pertanyaan yang sering muncul tentang pemilihan lokasi sentinel, pengumpulan data dan analisa data. Pada akhir bulan April 2013 Subdit Pengendalian ISPA Dit. PPML, Pusat BTDK Balitbangkes dan CDC Atlanta mengembangkan surveilans terintegrasi di 6 sentinel rumah sakit yang diberi nama SIBI (Surveilans ISPA Berat Indonesia). Pada tahun 2013 ini baru dikembangkan di 6 site sentinel yang meliputi ; RSUD Deliserdang Provinsi Sumatera Utara; RSUD Wonosari Provinsi DIY; RSUD Kanujoso Djati Wibowo Provinsi Kalimantan Timur; RSU Provinsi NTB; RSUD Bitung Provinsi Sulawesi Utara; RSUD Dr. M. Haulussy Provinsi Maluku.

Tujuan umum adalah Mendapatkan informasi epidemiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut Berat (SARI) sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengendalian penyakit. Adapun tujuan khususnya antara lain :

  1. Diketahuinya gambaran epidemiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut Berat (SARI) menurut waktu, tempat dan orang;
  2. Diketahuinya proporsi pneumonia dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut Berat (SARI);
  3. Diketahuinya proporsi kasus influenza positif diantara kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut Berat (SARI);
  4. Diketahuinya karakteristik virus influenza yang beredar;
  5. Diketahuinya angka fatalitas kasus (CFR) Infeksi Saluran Pernafasan Akut Berat (SARI) dan Pneumonia;
  6. Diketahuinya gambaran klinis dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut Berat (SARI).

Kegiatan Estimasi besaran masalah Influensa terkait ISPA Berat di Indonesia untuk RSU Provinsi NTB dilaksanakan oleh Tim  SIBI Pusat  dan RSU Provinsi NTB. Tim SIBI Pusat diwakili oleh Edy Haryanto dari Sub Direktorat ISPA, Dirjen P2PL , Roselinda dan Ni Ketut Susilarin  dari Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Balitbangkes serta Yekti Praptiningsih dan Amalya Mangiri  dari US CDC, Jakarta. Sementara Tim SIBI RSU Provinsi NTB diwakili oleh Kepala Instalasi Rekam Medik, dr. Ng Phi Shi.  Semoga dengan kegiatan ini mampu meningkatkan pelayanan penanganan ISPA di RSU Provinsi NTB.

Post by: Ayu Julie, Humas / 11-10-2014