Meriah Peringatan HGN, Hari Kanker dan Hari Kusta Sedunia Tingkat Provinsi NTB Tahun 2015

 

 

logo-hutDSC_0808DSC_0815

 

Pada Hari Jumat, 30 Januari 2015 bertempat di Lapangan Bumi Gora Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat dilaksanakan Puncak Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke 55, Hari Kusta Sedunia dan Hari Kanker Sedunia Tingkat Provinsi NTB. Puncak Peringatan ketiga Hari tersebut diisi dengan Senam Sehat, Pemeriksaan Kesehatan dan IVA (Inspeksi Visual Asem Asetat) dan Sosialisasi IVA. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Sekretaris daerah Provinsi NTB beserta Ibu, Ibu Wakil Gubernur dan beberapa Kepala SKPD Lingkup Pemerintah Provinsi NTB. Masyarakat dan karyawan/ karyawati SKPD membludak menghadiri acara ini , bahkan masyarakat berdesakan di meja pemeriksaan kesehatan untuk memperoleh pelayanan dari Tim Pelayanan Terpadu Dinas Kesehatan Provinsi NTB.

Dari berbagai sumber rujukan dapat sekilasdiinformasikan tentang Hari Gizi Nasional, Hari Kanker sedunia dan Hari Kusta Sedunia.

Hari Gizi Nasional (Indonesian National Nutrition Day). Pentingnya gizi dalam kehidupan bangsa Indonesia, sudah dirintis oleh almarhum Prof. Poorwo Soedarmo, Bapak Gizi Indonesia, sejak awal kemerdekaan tahun 1950. Saat itu beliau diangkat oleh Menteri Kesehatan, almarhum dokter J Leimena, untuk mengepalai Lembaga Makanan Rakyat (LMR). Waktu itu lebih dikenal sebagai Instituut voor Volksvoeding (IVV) yang merupakan bagian dari Lembaga Penelitian Kesehatan yang dikenal sebagai Lembaga Eijckman. Hari Gizi Nasional pertama kali diadakan oleh LMR pada pertengahan tahun 1960-an, dan dilanjutkan oleh Direktorat Gizi pada tahun 1970-an hingga sekarang. Kegiatan ini diselenggarakan untuk memperingati dimulainya pengkaderan tenaga gizi Indonesia dengan berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan tanggal 26 Januari 1951. Sejak saat itu pendidikan tenaga gizi terus berkembang pesat di banyak perguruan tinggi di Indonesia. Di kemudian hari disepakati bahwa hari gizi nasional ditetapkan menjadi tanggal 25 Januari.

Hari kanker sedunia berdasarkan kalender WHO dirayakan setiap tanggal 4 Februari. Perayaan ini dirasa perlu mengingat saat ini penyakit kanker masih menjadi permasalahan yang serius di seluruh dunia, baik di negara-negara yang sudah maju, terlebih lagi pada negara-negara yang masih berkembang. Menurut data terakhir yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2004, penyakit kanker menduduki urutan pertama sebagai penyebab kematian dengan jumlah kematian mencapai 7,4 juta jiwa atau 13% dari total kematian. Dari jumlah tersebut, dua pertiga penyakit ini terjadi di Negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia.

Diantara jumlah kematian tersebut kanker paru, lambung, hati, kanker kolon, dan kanker payudara menduduki urutan teratas. Jika dilihat dari jenis kelamin pada pria jenis kanker yang frekuensinya paling tinggi adalah kanker paru-paru, hati, colorectal, esofagus, dan prostat, sedangkan pada wanita kanker payudara, paru-paru, lambung, colorectal dan kanker serviks.. Berdasarkan penelitian, sebenarnya 30% dari kematian yang disebabkan oleh penyakit ini bisa dicegah dengan melakukan pengobatan dan perawatan yang tepat. Jumlah penderita kanker diperkirakan akan terus meningkat dari tahun ke tahun dengan perkiraan jumlah mencapai 12 juta jiwa pada tahun 2030 WHO juga menyebutkan setiap tahun ada 6,25 juta orang baru yang yang menderita kanker

Bagaimana dengan di Indonesia? Dari data Departemen Kesehatan Republik Indonesia, jumlah populasi yang menderita kanker sekitar 6 persen dari total penduduk. Riset kesehatan dasar Depkes tahun 2007 menunjukkan bahwa prevalensi kanker di Indonesia adalah 4,3 per 1000 penduduk. Dari riset juga diketahui bahwa kanker menduduki urutan ketujuh sebagai penyebab kematian akibat penyakit di Indonesia setelah stroke, tuberculosis, hipertensi, cidera, perinatal, dan diabetes mellitus.

Banyak dampak yang ditimbulkan oleh penyakit ini. Dampak pertama tentu karena jumlah kematian yang ditimbulkannya sangat tinggi. Kedua, biaya yang dikeluarkan untuk proses pengobatannya juga tidak sedikit. Keberhasilan proses penyembuhan sangat ditunjang oleh seberapa cepat penyakit ini terdeteksi dan sejauh mana kepatuhan pasien dalam menjalani proses terapi atau pengobatan. Semakin cepat kanker terdeteksi (tahap awal) semakin tinggi tingkat keberhasilan untuk mencapai kesembuhan. Keberhasilan ini juga berbanding lurus dengan tingkat kepatuhan pasien mengikuti proses terapi obat ini.

Mengetahui betapa besar dampak yang ditimbulkan oleh penyakit kanker, tentu langkah terbaik yang harus dilakukan adalah bagaimana kita dapat terhidar dari penyakit tersebut. Dengan menghindari faktor-faktor yang bisa memicu kanker, kemungkinan terserang oleh penyakit ini bisa diperkecil. Kanker berkembang dari satu sel tunggal yang terjadi sebagai akibat dari interaksi antara faktor genetik seseorang dengan tiga faktor eksternal yang bisa dikategorikan sebagai berikut : karsinogen fisik (radiasi ultraviolet dan proses ionisasi), karsinogen kimia (asbestos, komponen asap rokok, aflatoksin yang ada di makanan, arsen yang merupakan kontaminan air), karsinogen biologi (infeksi virus, bakteri dan parasit). Karsinogen adalah istilah yang digunakan terhadap zat atau bahan yang berpotensi menimbulkan kanker.

Kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang menyerang kulit, saraf tepi, jaringan dan organ tubuh lain (kecuali otak) dan menimbulkan kecacatan. Meskipun tergolong ke dalam penyakit menular, kusta merupakan penyakit yang tidak mudah menular, karena diperlukan kontak erat secara terus menerus dan dalam waktu yang lama dengan penderita. Penyakit kusta sebenarnya dapat disembuhkan tanpa cacat bila penderita ditemukan dan diobati secara dini.

Kenyataannya, penyakit kusta seringkali ditemukan terlambat dan sudah dalam keadaan cacat yang terlihat. Pada dasarnya, terdapat 2 tingkatan kecacatan penyakit kusta saat ditemukan, yaitu tingkat I dan II. Kecacatan tingkat I adalah cacat yang belum terlihat atau belum ada perubahan pada anatominya. Sementara kecacatan tingkat II adalah sudah terjadi perubahan yang nampak pada anatomi penderita kusta.

Kecacatan yang nampak pada tubuh penderita kusta seringkali tampak menyeramkan bagi sebagian besar masyarakat sehingga menyebabkan perasaan jijik, bahkan ada yang ketakutan secara berlebihan terhadap kusta atau dinamakan leprophobia. Meskipun penderita kusta telah menyelesaikan rangkaian pengobatannya, dinyatakan sembuh dan tidak menular, status predikat penyandang kusta tetap dilekatkan pada dirinya seumur hidup. Inilah yang seringkali menjadi dasar permasalahan psikologis para penyandang kusta. Rasa kecewa, takut, malu, tidak percaya diri, merasa tidak berguna, hingga kekhawatiran akan dikucilkan (self stigma). Hal ini diperkuat dengan opini masyarakat (stigma) yang menyebabkan penderita kusta dan keluarganya dijauhi bahkan dikucilkan oleh masyarakat.

Stigma dan diskriminasi seringkali menghambat penemuan kasus kusta secara dini, pengobatan pada penderita, serta penanganan permasalahan medis yang dialami oleh penderita maupun orang yang pernah mengalami kusta. Karena itu, dalam upaya menghilangkan stigma dan diskriminasi, dibutuhkan motivasi dan komitmen yang kuat baik dari penderita maupun masyarakat. Penderita diharapkan dapat mengubah pola pikirnya, sehingga dapat berdaya untuk menolong diri mereka sendiri, bahkan orang lain. Selain itu, masyarakat juga diharapkan dapat mengubah pandangannya serta membantu penderita maupun orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) agar tetap sehat dan mampu menjaga kesehatan secara mandiri.

Untuk menggugah kesadaran masyarakat untuk meningkatkan motivasi, mengubah pandangan dan menghilangkan stigma bagi penderita kusta juga OYPMK, maka setiap hari Minggu pada pekan terakhir di bulan Januari, diperingati sebagai hari kusta sedunia atau world leprosy day. Tahun ini, hari kusta sedunia jatuh pada 25 Januari 2015 dengan tema Hilangkan Stigma! Kusta Bisa Disembuhkan Secara Tuntas. (Humas/ Solikin)  

    DSC_0899 DSC_0829DSC_0834DSC_0841DSC_0951