Wadir Pelayanan : Bentuk Mindset Keselamatan Pasien Menjadi Budaya Kerja

Hello Healthy People dan Civitas Hospitalia! 👋


MATARAM. Wakil Direktur Pelayanan menekankan tetap disiplin mengikuti apel pagi sebagai kewajiban Pegawai. Kedisiplinan menjadi salah satu instrumen evaluasi kinerja Pegawai (15/12)
“Kegiatan sehari-hari tetap terpantau oleh orang di sekitar kita seperti teman, sejawat, atasan dan bawahan sampai pucuk Pimpinan (Direktur). Pola tersebut sesuai dengan model penilaian 360 derajat yang dirancang oleh Jajaran SDM.” tegas dr. Agus Rusdhy Hariawan, Sp. OG (K), MARS.
Selanjutnya dr Rusdhy menjelaskan bahwa seperti yang disampaikan oleh Direktur dalam rapat manajemen kemarin, bahwa roadmap rumah sakit ke depan adalah menjadi type A. Untuk mencapai hal tersebut tidak bisa dicapai dengan waktu singkat. Perlu dipilih unit unit yang memiliki daya ungkit tinggi dan menjadi mercu suar layanan di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Kalau menyimak yang disampaikan Kepala Instalasi Radiologi sebelumnya, bahwa Instalasi Radiologi telah mewujudkan mimpinya, dimana ada 3 modalitas canggih yang sudah datang untuk pengembangan layanan ditambah nantinya ada Cathlab untuk Radiologi intervensi. Jika diambil fokus radiologi menjadi layanan unggulan menjadi rumah sakit kelas A maka ada 7 layanan radiologi yang dipersyaratkan. sementara dilihat SDM dimana dokter spesialis radiologi yang kita miliki saat ini ada 5 maka butuh tambahan 2 orang Dokter Spesialis Radiologi. Satu sisi kita ketahui bahwa Modalitas Radiologi yang kita miliki merupakan alat tercanggih di NTB. Sehingga mungkin dalam menuju rumah sakit kelas A, maka mercua suarnya adalah layanan “SENTRAL DIAGNOSTIK ” yang mudah diakses masyarakat. Dapat dibuat taglinenya ” jika mau mengetahui kelainan dalam tubuh, bisa mendatangi Sentral Diagnostik Rumah Sakit Umum daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat., jelas Wadir Pelayanan memberikan contoh layanan yang bisa dipilih sebagai salah satu mercu suar menuju kelas A.
Berdasarkan saran dari Kemenkes RI bahwa untuk menjelang Moto GP atau yang telah terjadwal adalah even Superbike pada November 2021, Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat harus akreditasi JCI. Beberapa pengalaman dari yang terlibat akreditasi, bahwa perbedaan JCI dan KARS adalah dari sisi dokumen. Jika KARS menuntut dokumen harus lengkap dan detail sementara JCI menilai dengan mengutamakan patient safety yang terimplementasi di lapangan. Sebagai contoh jika dalam SOP ditetapkan visite Dokter ke pasien jam 08.00 sampai 14.00, maka akan dicek di lapangan oleh Penilai JCI apakah pasien sudah divisite dalam rentang waktu tersebut. JCI hanya memberikan nilai lulus atau tidak lulus atau nilai 0 atau 10 saja , jelas dr. Rusdhy yang juga merupakan salah satu Surveior KARS yang dimiliki Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat ini.
Saran dari Kemenkes tersebut menjadi atensi kita bersama untuk peduli terhadap kegiatan sehari hari menuju mindset kita bisa JCI, Mulailah dari sekarang membiasakan bekerja sesuai yang tertulis di SOP dan menulis apa yang dikerjakan. Mulai dari sekarang walaupun penilaian JCI belum dijadwalkan.
Civitas Hospitalia mulai bermimpi menuju JCI, dengan mulai membangun mindset bahwa keselamatan pasien menjadi BUDAYA KERJA. Tetap semangat, jangan lupa bahagia, hindari debat dan marah marah… pesan Wadir Pelayanan menutup briefing pagi.